468 Views

Sejumlah Wartawan Dilarang Keras Masuk Areal Bencana Longsor Dekat PLTA

Sumurungnews-Tapanuli Selatan,

Bencana longsor yang melanda kawasan Wek 1 Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan yang bersentuhan langsung dengan areal PLTA (PT.NSHE dan Sinohydro), Kamis (29/04) kemarin sekitar Pukul 18.00 WIB, terindikasi menghilangkan 9 orang anggota keluarga Waruwu penduduk yang bermukim dibawah lereng bukit lokasi longsor dan 3 orang Karyawan PLTA, bencana yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang merasa kehilangan ini, kesannya masih simpang siur penyebab bencana alam tersebut, Jum’at (30/04).

Titik longsor yang cukup terisolir, menambahkan minimnya informasi fakta terkait peristiwa bencana longsor ini, diperparah dengan dilarang kerasnya para kuli tinta untuk mengekspos peristiwa langsung ke lokasi titik longsor.

Terpantau sejumlah wartawan berusaha masuk melalui pintu utama kawasan PLTA  yang dikawal ketat aparat keamanan gabungan TNI-Polri untuk mengekspos kronologi fakta bencana longsor, namun niat para wartawan tersebut digagalkan petugas dengan dalih tidak ada izin dari posko penanggulangan bencana dan perlu diketahui bahwa 4 akses jalan masuk kekawasan titik longsor dikawal ketat petugas gabungan TNI-Polri.

Petugas penjaga pintu utama bermarga R mengatakan kami hanya menjalankan tugas, untuk izin masuk kedalam harus konsultasi dengan pihak kecamatan.

Kami bertugas untuk menjaga pintu utama, selebihnya terkait izin untuk masuk kedalam tergantung komunikasi dengan tim penanganan bencana, tegasnya.

Sejumlah awak media menuju kantor Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli, yang ditunjuk sebagai posko penanganan bencana longsor guna menindaklanjuti hal itu, disana telah berlangsung rapat yang dihadiri unsur forkopimda Tapanuli Selatan beserta jajaran dan rapat dipimpin oleh Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kembali sejumlah awak media berusaha masuk keruangan Camat yang dijadikan sebagai tempat rapat membahas penanganan bencana, namun niat wartawan kembali gagal akibat adanya oknum yang mengatakan rapat bersifat internal.

Dipenghujung rapat, diketahui bahwa BPBD ditunjuk sebagai koordinator penanganan bencana longsor dan sekaligus sebagai “satu pintu” untuk memperoleh informasi terkait bencana alam longsor tersebut.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan sejumlah wartawan untuk menterjemahkan peristiwa longsor di kawasan yang bersentuhan langsung dengan areal wilayah PLTA,  mendapat respon dari BPBD Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kalaksa melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tapanuli Selatan Hotmatua Rambe, menjelaskan bahwa musibah bencana longsor terjadi di kawasan Wek 1 Batangtoru dan diduga kehilangan 12 orang yang bermukim dibawah reruntuhan longsor.

Berdasarkan pencarian sejak terjadinya longsor, telah menemukan 3 orang korban jiwa yang terdiri dari 1 orang lelaki masih kecil, 1 orang perempuan masih kecil dan 1 orang perempuan dewasa, jelasnya.

Lebih lanjut Hotmatua menerangkan 3 orang korban jiwa dari bencana longsor, telah berada di RSUD Sipirok untuk keperluan Autopsi.

Ditanya wartawan terkait dilarang kerasnya para Jurnalis masuk ketitik bencana longsor, Hotmatua Rambe berdalih bahwa cuaca yang masih ekstrim dan tekstur tanah yang masih labil bisa saja memungkinkan terjadinya longsor susulan, kita berupaya mencegah itu, tandasnya.

Dalam kejadian ini,Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers kembali diuji, akibat dari dilarangnya sejumlah wartawan untuk meliput langsung ke lokasi titik bencana masih menyisakan misteri penyebab terjadinya bencana longsor. (012)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*